Pages

Selasa, 10 Januari 2012

pada akhirnya berubah

(yak! postingan pertama di 2012)

oh well, nama saya masih sama..yang berubah bukan itu.
begitupula wajah saya, masih seperti (semanis..hookh) yang dulu
(kecuali umur tentu saja, spt nya beberapa hari lagi angkanya bakal makin bertambah -itupun jika masih diberi umur panjang oleh Allah, Amin!)

yang berubah justru beberapa rencana-rencana hidup saya (walaupun sebenarnya saya juga tidak bisa disebut sebagai 'perencana.yang.baik', ahaha *ketawa.ngejek.diri.sendiri --> tp jika ada yg merasa juga, mungkin lebih bagus.. lalu kita tosss)

di postingan sebelumnya (yang entah sekian bulan yang lalu), saat saya ditanya apa rencana ke depan setelah lulus nanti.. kertas jawaban saya benar-benar kosong
tapi itu jadi titik awal, karena setelahnya saya jadi benar-benar mikir (tapi betul-betul hanya mikir, hehe) nanti ke depannya saya mau bergelut di pelayanan.. atau justru ke pendidikan..
beberapa hari setelah mikir, baru nyusun rencana... (halah..)

saat itu, hasilnya kira-kira seperti ini (itungan nya sih dalam 5 tahunan ke depan lah ya..):
....lulus profesi-cari pengalaman kerja di rumah sakit selama 2 tahun sambil perbaiki kemampuan bahasa asing-nyari beasiswa S2-cari kerja tetap, utamakan jadi akademisi (dosen, misalnya)...

daaaaaannnn...
akhirnya yang terjadi ternyata tidak sama persis dengan rencana-rencana itu
(kadang-kadang tak semua rencana berjalan sesuai kenyataan kan?)

Cerita (panjangnya) seperti ini:
waktu itu, selesai profesi Ners, sambil nunggu waktu wisuda, saya dan beberapa teman sepakat untuk magang di ruang ICU/ICCU salah satu rumah sakit selama tiga bulan (pertimbangan: bisa nambah skill dan modal untuk cari kerja di rumah sakit nantinya)
sehari setelah wisuda, saya ikut PEKERTI (semacam pelatihan dasar bagi jurusan non kependidikan yang berminat jadi dosen, kayak Akta IV gitulaah). Pertimbangan nya jelas: modal untuk jadi dosen nantinya.
Taaaapiii, setelah ikut PEKERTI, niat saya jadi dosen malah berkurang. Jadi dosen itu ternyata tidak gampang pemirsa! Beban nya sangat berat, pokoknya tidak sama seperti bayangan saya sebelumnya. Kecuali.. kalo mau jadi dosen yang asal sih memang gampang. Yang asal hadir di kelas, asal tayangin slide materi, asal bicara sedikit, asal beri ujian, dan asal juga memberi nilai (huuuu..., ogahhh)

Sekitar sebulan setelahnya, ada tawaran untuk menjadi tenaga bantu di salah satu rumah sakit yang memang jadi salah satu incaran saya. Tentu saja langsung saya iyakan, itung-itung bisa jadi langkah awal kan, hehe...(meskipun pada saat itu harus rela double shift sehari di rumah sakit yang berbeda, tapi demi nambah pengalaman kerja, ga pa pa lah ya.. #tsah)
Bingung justru muncul saat salah satu senior di kampus menawarkan untuk jadi dosen di salah satu akademi tempatnya bekerja. Saya sempat meminta pertimbangan di beberapa orang.
Tante ku bilang: "jangan nolak rezeki nak. Hari gini susah loooh dapat kerjaan. Ini ditawari kok malah bingung." (tipikal aji mumpung niiiiih)
Kakak ku bilang: "ambil saja. Lumayan itu dapat pengalaman ngajar, dan juga bisa nambah link" (tipikal dosen yang berprinsip makin banyak link makin bagus, nanti kalo ada penelitian sama mahasiswa jadi gak ribet cari objek :D) ."
Salah seorang sahabat ku bilang: "pikir-pikir dulu lah baik-baik. Jangan sampai nanti terjebak lalu merasa nyaman di tempat yang kurang tepat." (tipikal penuh pertimbangan matang nih, bagooosss)
Dan mamaku bilang: "terima mi nak saja. Apalagi itu negeri tooh. Bisaki nanti jadi PNS. Daripada kerja ki di rumah sakit jadi perawat yang nasuruh-suruh orang, lebih baik jadi dosen saja seperti kakak ta' (ahah, mama ku memang tipikal pecinta PNS nomor satu :D...)
Dan akhirnya, karena hasilnya 3:1 (ditambah juga karena perasaan gak enak sama si senior yang mulai mendesak) saya terima juga (lalu jadilah saya workaholic yang bisa bekerja 24 jam sehari di tiga tempat yang berbeda, hanya bisa menikmati kasur jika kebetulan dapat lepas dinas di salah satu rumah sakit --terdengar sangat maruk dan menyedihkan bukan? Hikzzz... T___T)

Menjalani hari-hari pertama di kampus tidak bisa disebut menyenangkan. Berhubung masih awal tahun ajaran, maka kegiatan mengajar belum ada. Paling banter cuma memberi ujian remedial bagi mahasiswa yang nilainya kurang. Lalu setelahnya, duduk di ruangan, mematung depan laptop, lalu bengong (menunggu disambet hantu siang bolong). Boriiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!
Dimasa boring-boring an seperti ini, tanpa sadar saya suka membanding-bandingkan kondisi kampus dengan kondisi rumah sakit. Sekaligus juga menganalisis minat diri sendiri.
Saya juga mulai membandingkan kondisi kakak perempuan saya yang seorang dosen dengan kakak ipar saya yang seorang perawat. Tampaknya, dosen itu bebannya 24 jam sehari. Buktinya, kakak saya sepulang dari kampus dan tiba di rumah jam 5 sore, malamnya masih harus begadang ngetik entah apa, atau periksa hasil ujian, atau nge print entah apa, dan lain lain dan sebagainya.. (waktu untuk keluarga? saya tidak tahu). Sementara kakak ipar saya, sepulang dinas selama 8 jam, sisa waktunya benar-benar untuk istirahat dan kumpul bersama keluarga. Di rumah sakit, beban kita memang berakhir saat operan sebelum lepas dinas.
Namun di samping itu, saya juga mengingat opini mama (dan juga opini sebagian besar orang) yang menganggap dosen (tampaknya) jauh lebih bermartabat ketimbang perawat. Entah alasan nya apa, tapi mungkin karena perawat bertugas melayani orang sakit, yang kesan nya bisa disuruh-suruh gitu ya? Atau mungkin juga karena asumsi 'perawat adalah pembantu dokter' belum bisa lenyap di masyarakat.

Dan kemudian, hidup pada akhirnya memang harus memilih, kawan...

Baru empat hari berada di kampus, pengumuman kelulusan di salah satu rumah sakit tempat saya memasukkan lamaran keluar.
Setelah menimbang berbagai hal, saya akhirnya memilih untuk keluar dari kampus.
Sebenarnya ini bukan lah tentang perawat lebih baik dari dosen, ataupun sebaliknya. Tapi ini lebih tentang bagaimana cara kita memandang sesuatu pekerjaan, dan dimana passion kita berada. Dosen dan perawat sama-sama pekerjaan mulia, selama kita bekerja dengan ikhlas dan memberikan yang terbaik.
Dosen membantu orang lain jadi lebih bijak dan pintar, sementara perawat membantu orang lain jadi sembuh dan lebih sehat.

Maka disinilah saya sekarang. Apa yang saya jalani sebenarnya tidak berbeda jauh juga dengan apa yang telah saya rencanakan sebelumnya, walaupun pemikiran dasar dan tujuan akhirnya memang sudah agak berbeda.

Saya selalu percaya, dimanapun kita berada, selama kita tulus dan melakukan yang terbaik, insya Allah akan berberkah. Mutiara di dalam lumpur pun akan selalu tetap jadi mutiara...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

4 komentar:

Baha Andes mengatakan...

Terkadang apa yg kita rencanakan tidak sejalan tapi bagai mana jika kita tidak mempunyai perencenaan, bagai kapas yg terombang-ambing oleh angin.

tetep optis.

Fajrin Thamrin mengatakan...

umur2 kita seperti sekarang, memang untuk jadi waktu/ masa pencarian arah hidup, ummi...
yg semngat sodari :)

_m.e.e_ mengatakan...

greenfaj: iya pa'... dan ternyata tidak gampang.

baha andes: yap, ttp optimis :)

Anonim mengatakan...

sumanga' :)