Pages

Selasa, 10 Januari 2012

pada akhirnya berubah

(yak! postingan pertama di 2012)

oh well, nama saya masih sama..yang berubah bukan itu.
begitupula wajah saya, masih seperti (semanis..hookh) yang dulu
(kecuali umur tentu saja, spt nya beberapa hari lagi angkanya bakal makin bertambah -itupun jika masih diberi umur panjang oleh Allah, Amin!)

yang berubah justru beberapa rencana-rencana hidup saya (walaupun sebenarnya saya juga tidak bisa disebut sebagai 'perencana.yang.baik', ahaha *ketawa.ngejek.diri.sendiri --> tp jika ada yg merasa juga, mungkin lebih bagus.. lalu kita tosss)

di postingan sebelumnya (yang entah sekian bulan yang lalu), saat saya ditanya apa rencana ke depan setelah lulus nanti.. kertas jawaban saya benar-benar kosong
tapi itu jadi titik awal, karena setelahnya saya jadi benar-benar mikir (tapi betul-betul hanya mikir, hehe) nanti ke depannya saya mau bergelut di pelayanan.. atau justru ke pendidikan..
beberapa hari setelah mikir, baru nyusun rencana... (halah..)

saat itu, hasilnya kira-kira seperti ini (itungan nya sih dalam 5 tahunan ke depan lah ya..):
....lulus profesi-cari pengalaman kerja di rumah sakit selama 2 tahun sambil perbaiki kemampuan bahasa asing-nyari beasiswa S2-cari kerja tetap, utamakan jadi akademisi (dosen, misalnya)...

daaaaaannnn...
akhirnya yang terjadi ternyata tidak sama persis dengan rencana-rencana itu
(kadang-kadang tak semua rencana berjalan sesuai kenyataan kan?)

Cerita (panjangnya) seperti ini:
waktu itu, selesai profesi Ners, sambil nunggu waktu wisuda, saya dan beberapa teman sepakat untuk magang di ruang ICU/ICCU salah satu rumah sakit selama tiga bulan (pertimbangan: bisa nambah skill dan modal untuk cari kerja di rumah sakit nantinya)
sehari setelah wisuda, saya ikut PEKERTI (semacam pelatihan dasar bagi jurusan non kependidikan yang berminat jadi dosen, kayak Akta IV gitulaah). Pertimbangan nya jelas: modal untuk jadi dosen nantinya.
Taaaapiii, setelah ikut PEKERTI, niat saya jadi dosen malah berkurang. Jadi dosen itu ternyata tidak gampang pemirsa! Beban nya sangat berat, pokoknya tidak sama seperti bayangan saya sebelumnya. Kecuali.. kalo mau jadi dosen yang asal sih memang gampang. Yang asal hadir di kelas, asal tayangin slide materi, asal bicara sedikit, asal beri ujian, dan asal juga memberi nilai (huuuu..., ogahhh)

Sekitar sebulan setelahnya, ada tawaran untuk menjadi tenaga bantu di salah satu rumah sakit yang memang jadi salah satu incaran saya. Tentu saja langsung saya iyakan, itung-itung bisa jadi langkah awal kan, hehe...(meskipun pada saat itu harus rela double shift sehari di rumah sakit yang berbeda, tapi demi nambah pengalaman kerja, ga pa pa lah ya.. #tsah)
Bingung justru muncul saat salah satu senior di kampus menawarkan untuk jadi dosen di salah satu akademi tempatnya bekerja. Saya sempat meminta pertimbangan di beberapa orang.
Tante ku bilang: "jangan nolak rezeki nak. Hari gini susah loooh dapat kerjaan. Ini ditawari kok malah bingung." (tipikal aji mumpung niiiiih)
Kakak ku bilang: "ambil saja. Lumayan itu dapat pengalaman ngajar, dan juga bisa nambah link" (tipikal dosen yang berprinsip makin banyak link makin bagus, nanti kalo ada penelitian sama mahasiswa jadi gak ribet cari objek :D) ."
Salah seorang sahabat ku bilang: "pikir-pikir dulu lah baik-baik. Jangan sampai nanti terjebak lalu merasa nyaman di tempat yang kurang tepat." (tipikal penuh pertimbangan matang nih, bagooosss)
Dan mamaku bilang: "terima mi nak saja. Apalagi itu negeri tooh. Bisaki nanti jadi PNS. Daripada kerja ki di rumah sakit jadi perawat yang nasuruh-suruh orang, lebih baik jadi dosen saja seperti kakak ta' (ahah, mama ku memang tipikal pecinta PNS nomor satu :D...)
Dan akhirnya, karena hasilnya 3:1 (ditambah juga karena perasaan gak enak sama si senior yang mulai mendesak) saya terima juga (lalu jadilah saya workaholic yang bisa bekerja 24 jam sehari di tiga tempat yang berbeda, hanya bisa menikmati kasur jika kebetulan dapat lepas dinas di salah satu rumah sakit --terdengar sangat maruk dan menyedihkan bukan? Hikzzz... T___T)

Menjalani hari-hari pertama di kampus tidak bisa disebut menyenangkan. Berhubung masih awal tahun ajaran, maka kegiatan mengajar belum ada. Paling banter cuma memberi ujian remedial bagi mahasiswa yang nilainya kurang. Lalu setelahnya, duduk di ruangan, mematung depan laptop, lalu bengong (menunggu disambet hantu siang bolong). Boriiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!
Dimasa boring-boring an seperti ini, tanpa sadar saya suka membanding-bandingkan kondisi kampus dengan kondisi rumah sakit. Sekaligus juga menganalisis minat diri sendiri.
Saya juga mulai membandingkan kondisi kakak perempuan saya yang seorang dosen dengan kakak ipar saya yang seorang perawat. Tampaknya, dosen itu bebannya 24 jam sehari. Buktinya, kakak saya sepulang dari kampus dan tiba di rumah jam 5 sore, malamnya masih harus begadang ngetik entah apa, atau periksa hasil ujian, atau nge print entah apa, dan lain lain dan sebagainya.. (waktu untuk keluarga? saya tidak tahu). Sementara kakak ipar saya, sepulang dinas selama 8 jam, sisa waktunya benar-benar untuk istirahat dan kumpul bersama keluarga. Di rumah sakit, beban kita memang berakhir saat operan sebelum lepas dinas.
Namun di samping itu, saya juga mengingat opini mama (dan juga opini sebagian besar orang) yang menganggap dosen (tampaknya) jauh lebih bermartabat ketimbang perawat. Entah alasan nya apa, tapi mungkin karena perawat bertugas melayani orang sakit, yang kesan nya bisa disuruh-suruh gitu ya? Atau mungkin juga karena asumsi 'perawat adalah pembantu dokter' belum bisa lenyap di masyarakat.

Dan kemudian, hidup pada akhirnya memang harus memilih, kawan...

Baru empat hari berada di kampus, pengumuman kelulusan di salah satu rumah sakit tempat saya memasukkan lamaran keluar.
Setelah menimbang berbagai hal, saya akhirnya memilih untuk keluar dari kampus.
Sebenarnya ini bukan lah tentang perawat lebih baik dari dosen, ataupun sebaliknya. Tapi ini lebih tentang bagaimana cara kita memandang sesuatu pekerjaan, dan dimana passion kita berada. Dosen dan perawat sama-sama pekerjaan mulia, selama kita bekerja dengan ikhlas dan memberikan yang terbaik.
Dosen membantu orang lain jadi lebih bijak dan pintar, sementara perawat membantu orang lain jadi sembuh dan lebih sehat.

Maka disinilah saya sekarang. Apa yang saya jalani sebenarnya tidak berbeda jauh juga dengan apa yang telah saya rencanakan sebelumnya, walaupun pemikiran dasar dan tujuan akhirnya memang sudah agak berbeda.

Saya selalu percaya, dimanapun kita berada, selama kita tulus dan melakukan yang terbaik, insya Allah akan berberkah. Mutiara di dalam lumpur pun akan selalu tetap jadi mutiara...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selasa, 29 Maret 2011

buta arah

-sepenggal percakapan dengan si om sore tadi-



            "setelah ini mau kemana?"
               ....................................
                            hening

                 ....................................


Tiba-tiba saja pertanyaan itu terdengar sangat horor di telingaku

Selasa, 02 November 2010

:rasa.mati:

taken from here

mungkin karena sakitnya pernah tak terperikan,
mungkin karena aku mulai lelah untuk sekedar bosan,
akhirnya aku sampai di titik ini: "kebal"

Selasa, 26 Oktober 2010

..putih..


saat ini saya lagi cinta-cinta nya pada putih
saat ini saya sungguh menginginkan putih
saat ini saya sungguh merindukan putih
tapi sayang, sungguh tak mudah untuk menemukan putih


*ahh..ikhlas itu, dan dimanakah kan kutemukan???

Selasa, 15 Juni 2010

katanya!

Lt.4 PSIK FK UH, setelah Yudisium:
"kakak-kakak kalian yang gagal di profesi, bukan karena mereka kurang pandai..cuma mereka kurang bisa menghadapi diri mereka sendiri"

"selamat kepada kalian semua, tapi tentu selamat juga kepada para orang tua yang telah berhasil mendidik kalian hingga sampai di titik ini"

(A.S., S.Kp., M.Kes)

Minggu, 06 Juni 2010

new face

tak ada alasan crusial kenapa tiba-tiba saya mengganti nya
hanya ingin
tak lebih

Minggu, 11 April 2010

seharian kemarin, modem saya tidak bisa connect
hasilnya banyak yg harus ditunda termasuk ngedit perbaikan skripsi..
http://www.emocutez.com

ternyata si modem serius ngambek dan akhirnya balas dendam gara-gara kasus pengkambinghitaman itu (baca disini)

sepertinya ada konspirasi dengan si skripsi juga http://www.emocutez.com




Piz dulueh kodoong, janji gak akan lagi...
(mari kita berbaikan, bergandengan tangan, seiring sejalan)
http://www.emocutez.com

Sabtu, 10 April 2010

BERCERMIN SAAT GELAP

Subuh tadi, saya dibangunkan oleh bunyi henpon –si butut penyakitan tapi sangat saya sayangi itu—,telepon dari ayah ternyata (saya tak tahu tepatnya jam berapa, soalnya ketika terjaga suasana gelap gulita karena mati lampu). Awalnya agak kaget, tumben saya ditelepon jam segini, sempat khawatir dan mikir yang tidak-tidak, tapi kemudian ketahuanlah kalo ternyata sebelumnya justru nomor saya yang melakukan panggilan (dasar si butut, berulah lagi!!Eh, okeh..salah saya juga krn gak kunci tombol sebelum tidur).

Akhirnya pembicaraan lumayan panjang karena berlanjut ke mama dengan suara serak-serak becek saya yang baru bangun (dan membuat mama khawatir karena mengira saya abis nangis, hadoooh..ini baru bangun ma, b.a.r.u.b.a.n.g.u.n!!!). Telepon berakhir ketika adzan subuh terdengar, ditutup dengan kalimat mama :”sudahmi. Bangunmiki’ nak..sholat subuh”.

Saya terkaget...dan juga terpesona! Sambil jalan ke kamar mandi untuk ngambil air wudhu, saya berpikir banyak. OMG...ini kali pertama sejak –entah sudah berapa lama, hari?minggu?atau jangan-jangan bulan???—saya bangun dan mendengarkan adzan subuh dikumandangkan dan sholat. Akhir-akhir ini saya lebih sering sholat jam 6!!!

Dan kemudian, semakin saya berpikir, dosa-dosa saya justru semakin bertambah.

Akhir-akhir ini saya lebih banyak sholat akhir waktu...jarang banget ngaji...gak pernah lagi sholat lail padahal tiap malam begadang...lebih sering denger ‘Paramore’ ketimbang puter murrotal...sering bolos tastqif di kampus..oooh...betapa nistanya hamba-Mu ini!

Ketika mata saya tertuju pada kertas-kertas yang bertebaran di tempat tidur, tiba-tiba saya terbetik satu hal. Ahhaaa...ini dia biang keroknya. Skripsi memang betul-betul menyita perhatian saya akhir-akhir ini (untung saja saya masih waras sehingga tidak menghukum kertas-kertas itu dengan menyobek dan membuangnya. Kalo sampe itu terjadi, pasti setelahnya saya bakal menangis darah). Skripsi telah membuat saya begadang tiap malam sampe-sampe gak bisa bangun subuh. Skripsi telah berhasil menggoda saya sampe-sampe mengesampingkan hal-hal lain. Skripsi telah membuat tingkat stress saya meningkat sampe-sampe berat badan saya turun (eeehhh????). Pokoknya skripsilah yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini.

Setelah puas menuduh si skripsi, mata saya beralih lagi ke modem. Naaaah...yang ini ikut andil juga. Si modem kan pengikutnya si skripsi –dulu, satu-satunya alasan yang membuat pengajuan proposal pembelian modem di acc oleh ayah adalah karena mau dipake menyelesaikan skripsi--. Dan disinilah bencananya. Setiap kali online, walaupun tujuan utama memang buat cari bahan, tapi tentu saja sangat sulit untuk mengabaikan facebook, plurk, dkk..yaaa,,,dengan dalih sambil menyelam minum air gitulaaah (cih, kentara banget cari rasionalisasi yak?). Online selalu bikin kita lupa waktu kaaan?(hayooo ngaku. Cepat bilang ‘iyya’)

Untung saja sebelum saya lanjut menuduh hal-hal lain, tiba-tiba saya insyaf. Saya mulai iba sama si skripsi dan pengikutnya itu. Perasaan gak tega akhirnya muncul. Kasian kalo saya terus mengkambinghitamkan mereka. Nanti kalo mereka ngambek, gimana? Kan saya yang bakal repot setengah hidup. Akhirnya dengan penuh kebesaran hati, saya mengakui kalo semua kelalaian saya akhir-akhir ini murni sumbernya berasal dari diri saya sendiri. Tak ada hal terbaik yang harus saya lakukan kecuali bertobat dan kembali. Huwaaaa...rasanya pengen nangis dan pulang kampung –kalo di kampung kan ada mama yang selalu mengingatkan sholat, dll. Lha kalo di sini, perlu kesadaran diri sendiri --

Terakhir, saya menoleh ke si henpon butut. Tersenyum dan mengelus-elusnya. Tuhan memang selalu punya cara untuk membuat hamba-Nya mengerti, walapun terkadang dengan cara yang misterius. Kali ini, aku mengerti lewat kamu butut, makasih banyak ya!!! (eh, tiba-tiba si butut mengedip nakal ke arahku) okeeeeehhh..ini cuma halusinasiku saja kok.

Kamis, 04 Maret 2010

pernah merasakan sesuatu yang -rasanya- sangat sulit di defenisikan?

kira-kira begitulah adanya sekarang,

sesuatu yang..ummm...sulit didefenisikan -- sekali lagi

Rabu, 16 Desember 2009

ikhlaskah ini???

atau...

justru terlalu letih???

Senin, 14 Desember 2009

lagi berkutat dengan final-final...
http://www.emocutez.com

tugas-tugas yang seabrek... http://www.emocutez.com

ampuuuuuuun....

Kamis, 10 Desember 2009

Semester 7 ituuuuw...

Menjadi mahasiswa semester 7 berjuta rasanya...ternyataaaa.....

Banyak hal yang tak tertebak!!!http://www.emocutez.com

Dulunya, ketika semester 6 berakhir, gw pikir semester 7 bakal menjadi semester yang membosankan. Soalnya, dulu jaman gw masih SMA, gw sering dengar anak kuliahan bilang kalo udah semester tua (hmm...sorry, pemilihan katanya kurang cerdas..hoho) itu bakalan nyante banget. Seminggu paling banter 2 kali ngampus, n’ selebihnya ngambang. Hiiy,,,mengerikan bukan?
Membayangkan diri melapuk di rumah bukanlah hal yang bisa dikatakan indah. Rencana melanjutkan kursus akhirnya berhasil menjadi kandidat pertama sebagai alternatif kegiatan pengisi waktu luang, dan cari kerja part time jadi urutan kedua (ini tentang salah satu mimpi gw ketika SMA yang timbul karena efek samping baca komik jepang yang over dosis – mungkin gw akan membahasnya kemudian)
Dan ternyata oh ternyata...beginilah!
Perkuliahan semester 7 berjalan sama sekali gak jauh beda dengan semester-semester sebelumnya. Kuantity, jumlah mata kuliah yang mesti gw programkan gak banyak. Tapi kesibukannya tetap! Bahkan lebih! Soalnya bobot tiap mata kuliah lumayan berat, dan itu jelas butuh perhatian ekstra...

Tapi fakta ini sama sekali gak buruk. Karena yang penting; kuliah semester 7 ternyata gak se-membosankan seperti yang pernah gw duga. Ternyata seru!!! Dan inilah kisah semester 7-ku...


# memang diawali dengan krisis kepercayaan diri stadium tinggi, terutama di depan teman-teman dari jurusan yang dulu gw tinggalkan. Sangat peka (dan membenci) pertanyaan : “sudah selesai? Kapan?”. Untungnya bisa kembali berpikir jernih, dan berpikir kalo gw gak akan pernah menyesali keputusan yang pernah gw ambil (Saaaddaaaaaaap....)


# semester 7 menjadikan kami semua (esp teman seangkatan) jadi lebih dekat. Ketika menyadari kalo kebersamaan yang udah terjalin selama 3 tahun-an akan berakhir, kadang-kadang kami bersikap terlalu dramatis (humm,,,tepatnya terlalu mendramatisir)...dan juga Narsis, tentunya. Foto bareng di sudut sudut kelas saat jeda kuliah jadi saksi bisunya

# semester 7 berarti semakin dekat ke finish perkuliahan. Dan ini sama sekali gak berarti kalo beban semakin ringan,,tapi justru sebaliknya. Setidaknya, belum ada yang bilang kalo penelitian n' nyusun skripsi itu gampang (betul tidak, kawan?). Setelah itu, harus menghadapi profesi yang gak kalah hebatnya, setelahnya lagi mikir nanti bakal ke mana, setelahnya lagi...dan setelahnya lagi......

# semester 7 itu,,brarti udah tua...http://www.emocutez.com
iyyalah...udah jadi angkatan tertua di kampuz. Super duper senior ney critanya...

# semester 7 itu...bakal banyak yang bertanya : udah semester berapa sekarang? kok belum lulus-lulus juga..perasaan kuliahnya udah lama (okeh...mungkin 2 kalimat terakhir itu cuman parno gw aja. Maksud gw, gak semua orang berpikiran kayak gitu...tapi yang harus diingat, bahwa ada juga segelintir orang yang begitu). So??? Tabah aja...jangan pernah menyerah kata d'Massive (udah udah...ini ngelantur)

# semester 7 itu : BANYAK lah pokoknya!!!

Rabu, 09 Desember 2009

Aku MENGERTI,
Tapi aku tak bisa MENERIMANYA!!!

Kau cukup memahami itu kan???

Dua hal itu tak selamanya seiring sejalan...
http://www.emocutez.com" />

I’M NOT ME

_terasa sejak beberapa bulan terakhir, dan sialnya sampai sekarang masih saja begitu. Dan betapa kuingin kembali_


Akhir-akhir ini terasa beda, ada yang berubah. Hilang motivasi, penurunan koping, emosi labil, manajemen stress jatuh drastis, dan yang lebih buruk lagi ; menjadi manja! Aku tak semandiri dulu, bahkan hanya untuk hal kecil sekalipun (n’ what I really hate diz part).

Gyaaaaah....tidaaaaak!!!
http://www.emocutez.com">

Gak mau begini terus. I need something to change it, tapi apa???

Jadi benci diri sendiri rasanya...huuuft...
Huhuhu...give me back my old life http://www.emocutez.com">

Kamis, 29 Oktober 2009

_terlintas begitu saja_

saat ku terbangun pagi ini,
hal pertama yang muncul justru itu.

ku tak pernah ingin seperti ini,
tapi semua terlintas saja begitu.

sekian lama ku menghindar tuk mengenang
mengusung pengingkaran akan rasa sakit
memaksakan kaki berdiri di atas perih
lalu lewat sedetik-tiga detik pagi tadi
kegagalan pun akhirnya membukti

dan kini
tak ada lagi selain mengakui
masih dan ku masih saja begini

Rabu, 26 Agustus 2009

a-post tag 'bout : Triplet Answer

hi... bloggers! I've got a post-tag from ahmad
Here are the rules..

What you're supposed to do... and please do not spoil the fun...
Create a new post, copy and paste this post, delete my answers and type in yours.
Then tag 21 good friends and family INCLUDING the person who tagged you.
The theory is that you will learn one new thing about each of your friends.

THREE NAMES I GO BY
1. Mimi (nama panggilan sejak kecil, gak tau sebab musababnya apa)
2. Ummi (teman-teman di skul dari SD mpe kuliah manggilnya begitu)
3. Mee ( just 2 make it shorter ; beberapa orang2 tertentu memanggil seperti ini)

THREE JOBS I HAVE HAD IN MY LIFE
Definisi pekerjaan : sesuatu yag anda lakukan dan anda dibayar untuk itu (by Mad)
1. AsDos Dadakan. Gantiin kk ngajar Kalkul Dasar di SP (dgn identitas dirahasiakan waktu itu, :) )
2. Ngajar privat -> awalnya coba-coba, bertahan sebentar, lalu tobat karena tabrakan dgn tugas kuliah
3. ...................

THREE PLACES I HAVE LIVED
1. Sengkang
2. Malino
3. Makassar

THREE TV SHOWS THAT I WATCH
1. Serial korea
2. Liputan 6
3. OB

THREE PLACES I WANT TO GO
1. Mekkah
2. Paris
3. Jepang

THREE OF MY FAVORITE FOODS
1. Nasi goreng
2. Nasi campur
3. dan nasi-nasi yang lain,,,kecuali nasi basi...

THINGS I AM LOOKING FORWARD TO
1. Lulus S1 + Profesi dgn mulus
2. Lanjut S2 tanpa hambatan
3. kerja di RS yang bagus

THREE FRIENDS WHO WILL REPLY
1.
2. auk ah gelap
3.

THREE FAVORITE BANDS/SINGERS
1. Paramore
2. Audi
3. Seventeen

THREE FAVORITE SPORTS TO WATCH
1. Moto GP
2. ..........
3. (pada dasarnya bukan maniak sports...)

THREE FAVORITE DRINKS
1. Orange juice
2. Air putih
3. Es kelapa muda

Then, I'm tagging this post to ifah-achank, happy tagging and happy blogging all!

Sabtu, 30 Mei 2009

_ketika kita ikhlas_

Jika kita sering mendengar orang bilang ‘di dunia ini banyak hal yang tampak sederhana tapi sebenarnya sulitnya luar biasa’, aku menganggap ‘menjadi ikhlas’ adalah salah satunya. Gak ada langkah atau tips khusus gimana caranya jika kamu mau menjadi ikhlas, karena prosesnya sungguh tak terjangkau akal pikiran. Ikhlas bersumber dari hati--hati yang tak terdefenisi dan sulit dideteksi. “menjadi ikhlas” adalah hal luar biasa, dan untuk menggapainya terkadang membutuhkan keberanian. Dani hasilnya???Sungguh mengagumkan! Engkau tak akan mendapatkan ketenangan sebaik ketika engkau ikhlas…
Perlu bukti???
Naah,,,
Kamu pernah merasa sakit hati?
(pastilah ya…setiap orang pasti pernah, even in different ways. Bo’ong banget kalo bilang gak pernah, hehe --- maksa nih akhirnya)
Coba ingat gimana bedanya perasaan kamu ketika : terus memelihara rasa sakit hati itu atau mencoba untuk menerimanya (menurut aku, ‘mencoba untuk menerima’ adalah langkah awal untuk mencapai ikhlas, betul gak?)…pasti beda!
Menyuburkan sakit hati hanya akan membuat kita merasa tersiksa, seolah ada beban berat yang tak terlihat menghimpit di dada. Dan satu-satunya cara untuk melepaskan beban itu adalah mengikhlaskannya.
Tapi, pertanyaan terbesarnya adalah : butuh waktu berapa lama untuk bisa menerima lalu mengikhlaskannya?
Tak ada yang tau jawabanya, karena semuanya kembali ke kamu. Iyya, “kamu”, bukan siapa-siapa. (ya iyyalah…kan gak mungkin ke nenek lo…)
Kadang-kadang kita justru menjadi ‘sok ikhlas’…di bibir berkata “aku sudah tidak sakit hati lagi” lalu tertawa ceria di depan semua orang. Padahal, di dalam hati teteeeeup aja sakit. Tuh, sok ikhlas kan namanya?
Dalam kasus ini, ada satu hal lagi yang cukup berperan penting yaitu ‘gengsi’. Harga diri seringkali kita usung terlalu tinggi sehingga ‘memberi maaf’ menjadi sangat mahal. “iiihhhh, enak aja minta maaf. Setelah membuat saya sakit hati, sekarang dengan entengnya dia bilang maaf?Nggak semudah itu lah…”---statement kayak gini nih yang selalu keluar (hayoo ngaku!!!)
Jadi, ketika kamu lagi sakit hati…biar lebih tenang mendingan ikhlas. Sulit?Memang iyya!Gak ada kata ‘mudah’ dalam hal ini.
Dan juga butuh waktu. Gak ada yang bisa melupakan sakit hatinya dalam waktu semenit, akan tetapi lebih cepat lebih baik (Uppss…it’s not campaign J ). Dan sekali lagi butuh keberanian. Berani untuk mengakui bahwa kamu lagi merasa sedih dan sakit hati (jadi gak perlu sok tegar dan sok ikhlas),,serta berani untuk menurunkan sedikit gengsi lalu memaafkan. Setelah itu, pasti akan ada sedikit kelonggaran dalam hati untuk bisa menerima keadaan…dengan ikhlas!
Ketika kita ikhlas???yakin dan percaya, hati akan tenang. Lalu,,,semuanya akan menjadi lebih jelas...

Senin, 27 April 2009

Karena itu adalah topic yang sensitive buatku saat ini….

Setting : kantin kampus, jam makan siang (yaah, sekitar jam 1-an lah), lagi duduk membelakangi tangga sambil ngobrol dengan teman-teman (+nunggu pesanan pastinya)…

Mr.X (sambil nepuk bahu dari belakang) : “Hai,,,”
Gw (menoleh kaget) : “Mmmm…yah…hai juga!”
Mr.X : “mau makan?” --- (sungguh pertanyaan bodoh. Basa-basi banget…ya iyyalah mau makan)
Gw : “tidak…mw nonton” (jawaban yang tak kalah bodohnya, ternyata…)
Mr.X : “Gmn kbrnya?gmn kuliahnya?kapan selesainya?”
Gw : “Baik. Lancar. Dan Mmmm….eh, teman-teman yang lain mana?”
Mr.X : “ada di jurusan. Beberapa udah selesai lho…Jadi kapan selesainya?”
Gw : “Oooh, gitu ya. Terus…terus…kabar mereka gimana?”
Mr.X : “Semuanya baik-baik saja. Sekarang sibuk apaan neh?Udah skripsi belum?”
Gw : “Mmm…masih sibuk kuliah laaah…”(sambil senyum dengan deviasi yang hampir tak terdeteksi)
Mr.X : “Jadi, kapan selesai?”
Gw : “Oooh…itu! Maksud saya, itu…pesanan saya udah datang…, Eh, tadi nanya apaan?”
Mr.X : “Udahlah…kamu makan dulu. Saya ke atas dulu ya, mau cari tempat”.
Gw : “Yah..OK!Salam ya buat teman-teman yang lain. Bilang kangen banget ma mereka semua…”
Mr.X : “Siip…”

Fiuuuh….akhirnya!
Topik itu lagi…
Kejadian seperti ini terulang lagi. Entah untuk yang kesekian kali. Jangan-jangan kalo keseringan gw bisa bunuh diri karena kehabisan kepercayaan diri (wow...ini sih berlebihan kali ya). Tapi bilang gw terlalu berlebihan, bilang kl gw lebay….tapi pernah gak kamu merasa apa yang gw rasakan sekarang? Kondisi ketika teman-teman kamu di jurusan yang pernah kamu tinggalkan mulai muncul satu-persatu, memberitahu kalo mereka udah selesai di wisuda, selanjutnya menanyakan ‘kamu sendiri gimana?kapan selesainya?’….(cukup membuat psikis bergerak jatuh bebas kan?) Kayaknya ini adalah my first quarter life crisis!!! Coba bayangkan : Ketika teman-teman gw udah di wisuda, gw masih aja berkutat dengan tugas-tugas kuliah. Ketika teman-teman gw udah kerja, gw masih teteup aja kuliah. Intinya, gw berada di satu anak tangga di bawah mereka. (Huhuhu…menyedihkan!)
Untuk sedikit membesarkan hati (atau justru cuman rasionalisasi?), gw kadang-kadang berpikir kalo sebenarnya gw gak perlu berpikir terlalu banyak mengenai hal itu. Ketinggalan satu tahun adalah sebuah resiko yang semestinya sudah gw pertimbangkan sejak dulu ketika gw mengambil keputusan untuk pindah. Tertinggal satu anak tangga adalah harga yang harus gw bayar untuk berada di tempat yang gw suka dan nikmati. (Betul bangetttzzz….Memang seharusnya seperti ini). Tapi, kalo kejadian yang tadi terulang lagi…Teteeeeeeup aja sedih!!!! (Hikz)
Jangan lagi deh! Karena itu adalah topic yang sensitive buatku saat ini.

Jumat, 17 April 2009

jadi teringat...

Gara-gara dapet tugas untuk mempersiapkan presentase dengan tema buku favorit (Cintapuccino, of course!)...gw mesti bongkar-bongkar+++baca-baca kembali chicklit yang satu itu. Just skipped sih, tapi lumayan membuat gw teringat banyak hal.

Termasuk mengingat Deel, teman sekamar gw yang dulu juga suka banget dengan chicklit ini, bahkan dengan alasan yang sama pula --- sama-sama menyukai sosok ’Ami---Appraditha Arrahmi’ yang jadi tokoh utamanya (selain suka dengan kisahnya juga lah). Namun, sepertinya kami mengagumi ’Ami’ dari sudut yang berbeda.

Menurutku, Deel menyukai ’Ami’ karena sedikit banyak dalam hal karakter dan harapan, mereka punya banyak kesamaan. ’Ami’ sebagai Cosmopolitan Girl yang cerdas dan pemberani, mirip banget ma si Deel...(ini menurutku loh ya,,n’ b’coz of it, I really adore her!)

Truz,,kenapa gw suka ‘Ami’,,,itu karena gw suka banget dengan kisah dan terlebih lagi terhadap cara berpikirnya (terlepas bahwa ini hanyalah sebuah fiksi, tapi jika memang ada cewek yang persis seperti ‘Ami’ di dunia nyata, gw bakal jadi salah satu fans nya mungkin!!!Mmm, mungkin…---ups, except her habit to smoke tentunya. I hate a smoker!!!) Gw kagum dengan keberaniannya mengambil resiko, dalam hal pekerjaan dan juga cinta. Dan bagaimana dia akhirnya menemukan obsesinya yang telah bertahun-tahun mengkronis (Wow, finally, hhh...), dan ketika dia mau menerima (bahkan merasa cintanya semakin besar) bahwa orang yang selama ini menjadi obsesinya ternyata tak se-perfect yang dia pikir sebelumnya,,,,dan bagaimana dia being brave meninggalkan pekerjaan dengan salary yang gak usah dipertanyakan jumlahnya hanya karena gak nyaman dengan lingkungannya…the point is…dia adalah cewek yang knows exactly what does she wants dan selalu berani untuk memilih (dan juga siap menerima resiko). Hmmm…menurutku, tak banyak cewek yang bisa seperti ini.

Tapi, untuk beberapa hal,,gw dan ’Ami’ juga punya kesamaan. Misalnya aja tentang mendapatkan keberuntungan. Dalam hidup, gw rasa udah mendapatkannya dalam banyak kesempatan --- bahkan gw lebih senang menyebutnya keajaiban (Thank God for that).

Gw juga jadi teringat kalo sebenarnya gw membeli chicklit ini sampai tiga kali. Satu-satunya penyebab adalah karena tindakan dari oknum (baca:peminjam) yang tidak bertanggungjawab. Padahal gw udah sedih banget waktu kehilangan kedua kali karena stock di Gramed waktu itu udah gak ada (soalnya kan barang lama), tapi untungnya gw bisa dapat di suatu toko buku pinggiran---itupun satu-satunya yang terselip diantara novel-novel yang lain...(dan inilah contoh keajaiban yang pernah gw dapat, J).

Ketika gw dapat info dari teman kalo Icha Rahmanti (the author of that chicklit) bakal datang ke Makassar untuk Talkshow mengenai buku keduanya (Beauty Case), gw jadi bersemangat banget pengen ikut, walopun akhirnya batal gara-gara bertepatan dengan ujian di kampus.

Sama halnya ketika film-nya keluar, dengan semangat 45,5 gw ke TO...tapi hasilnya justru sangat mengecewakan. Sungguh berbeda dengan chicklit aslinya....Huuffh,,,

And d’ last,,,gw cuma pengen bilang kalo ini ada chicklit yang –sesuai namanya, benar-benar cewek banget!!!

Jumat, 10 April 2009

semuanya berakhir...bahkan sebelum aku sempat memulainya...(HikzHikz)

Seandainya keajaiban itu benar-benar ada,,,
atau Doraemon bisa muncul di depanku lalu membawaku ke masa lalu dengan laci mesin waktunya,
cukup satu yang kuminta : "bawa aku kembali ke Hari Senin, 06 Maret 2009, pukul 15.00"..
dan akan kuulang semuanya....

___tapi ini tak mungkin___
HikzHikz,,,tak pernah aku menyesak seberat ini, Sungguh!